Epilepsi

Epilepsi: Gejala, Penyebab, dan Penanganan untuk Anak dan Orang Dewasa

Ayan atau epilepsi merupakan kondisi di mana penderita akan mengalami kejang yang terjadi secara berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak. Kejang ini dapat muncul secara tiba-tiba tanpa peringatan dengan gejala yang bervariasi, mulai dari tatapan kosong hingga kejang disertai hilangnya kesadaran.

Dilansir dari situs resmi RSUP Dr. M. Djamil  tahun 2025, jumlah penderita epilepsi di Indonesia mencapai 1,5 juta atau sekitar 0,6% dari total penduduk Indonesia. Kondisi ini dapat menyerang siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk mengetahui selengkapnya mengenai epilepsi simak informasi dalam artikel berikut ini!

Apa Itu Epilepsi?

Epilepsi adalah kondisi medis yang berhubungan dengan cara kerja otak. Pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan aktivitas listrik di otak tidak bekerja sebagaimana mestinya, sehingga memicu terjadinya kejang yang muncul secara berulang.

Kejang akibat epilepsi dapat terjadi kapan saja, termasuk saat penderita sedang beristirahat maupun melakukan aktivitas ringan. Umumnya, epilepsi ditandai dengan kejang yang muncul berulang, setidaknya terjadi dua kali dalam kurun waktu 24 jam.

Secara umum, istilah epilepsi memiliki makna yang serupa dengan gangguan kejang. Istilah ini tidak merujuk pada penyebab spesifik kejang yang dialami seseorang maupun menunjukkan tingkat keparahan kondisi tersebut.

Penyebab Epilepsi

Penyebab epilepsi sangat beragam dan tidak selalu dapat diidentifikasi secara pasti. Pada sebagian kasus, epilepsi muncul tanpa penyebab yang jelas.

Beberapa penyebab epilepsi yang umum meliputi:

  • Cedera otak atau trauma kepala

  • Infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis

  • Kelainan genetik

  • Stroke atau tumor otak

  • Gangguan perkembangan otak

Selain itu, penyebab epilepsi pada anak dan orang dewasa juga dapat berbeda. Beberapa penyebab epilepsi pada anak-anak, antara lain:

  • Demam

  • Infeksi

  • Tumor otak

Sedangkan pada orang dewasa, beberapa penyebab epilepsi yang bisa terjadi antara lain:

  • Genetik

  • Cedera kepala

  • Penyakit otak progresif

  • Alzheimer

  • Stroke

Jenis-Jenis Epilepsi

Epilepsi bisa dibedakan menjadi beberapa jenis yang masing-masing memiliki ciri khas sendiri. Berikut beberapa jenis epilepsi yang umum terjadi:

  1. Epilepsi Fokal (Sebagian)

    Epilepsi ini terjadi ketika kejang dimulai di bagian tertentu dari otak. Jenis epilepsi ini umumnya terjadi pada orang dewasa, namun dapat terjadi juga pada anak-anak, dengan beberapa gejala seperti berikut:

    • Gerakan kecil atau kedutan di tangan atau wajah

    • Perubahan sensasi, emosi, atau persepsi sementara

    • Dapat berlanjut menjadi kejang seluruh tubuh jika menyebar ke otak lainnya

     

  2. Epilepsi Generalisasi

    Jenis epilepsi ini sering terjadi pada anak-anak dan remaja, namun bisa terjadi juga pada semua usia. Pada epilepsi ini, kejang mempengaruhi seluruh otak sekaligus, sehingga gejala biasanya lebih jelas, seperti:

    • Kehilangan kesadaran tiba-tiba

    • Tubuh menjadi kaku dan kejang hebat (tonik-klonik)

    • Mulut berbusa atau menggigit lidah

  3. Epilepsi Idiopatik

    Jenis ini terjadi tanpa penyebab yang jelas dan biasanya karena faktor genetik. Beberapa ciri umum dari jenis epilepsi ini antara lain:

    • Penderita memiliki riwayat kejang berulang sejak kecil

    • Tidak ada kerusakan otak yang terdeteksi melalui pemeriksaan rutin

Gejala Epilepsi

Gejala epilepsi dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung jenis epilepsi dan bagian otak yang terpengaruh. Beberapa gejala terlihat jelas, sementara yang lain bisa sangat ringan sehingga sulit dikenali. Berikut beberapa gejala yang umum terjadi:

  1. Gejala Ringan

    Pada kasus ringan, epilepsi sering tidak disadari karena gejalanya hampir mirip dengan perilaku biasa:

    • Tatapan kosong atau melamun sesaat

    • Gerakan kecil atau kedutan ringan pada wajah atau tangan

    • Respons lambat

    • Perubahan perilaku singkat, seperti berhenti sejenak saat melakukan aktivitas

    Gejala ringan ini lebih sering ditemukan pada anak-anak dan kadang dianggap sebagai gangguan konsentrasi atau kelelahan biasa.

  2. Gejala Berat

    Gejala epilepsi yang lebih berat umumnya bisa terlihat jelas dan bisa membahayakan, seperti:

    • Kehilangan kesadaran secara tiba-tiba

    • Kejang kaku dan hentakan tubuh yang kuat

    • Mulut berbusa atau menggigit lidah

    • Kehilangan kontrol buang air

    • Jatuh secara tiba-tiba yang berisiko menyebabkan cedera

    Pada orang dewasa, gejala berat ini bisa memengaruhi aktivitas kerja dan keselamatan sehari-hari, sedangkan pada anak-anak, kejang berat bisa berdampak pada tumbuh kembang dan kemampuan belajar.

Baca juga: Bronkitis: Bedakan Antara Batuk Biasa dan Gangguan Paru yang Serius

 

Pengobatan Epilepsi

Meskipun epilepsi tidak selalu bisa disembuhkan total, kondisi ini dapat dikontrol dengan pengobatan yang tepat. Pengobatan bertujuan untuk mengurangi frekuensi kejang, mencegah komplikasi, dan menjaga kualitas hidup penderita. Berikut beberapa alternatif pengobatannya:

  1. Obat Anti Epilepsi

    Pengobatan utama untuk epilepsi biasanya berupa obat yang diberikan oleh dokter. Obat ini bekerja untuk menstabilkan aktivitas otak sehingga kejang dapat dikendalikan. Pastikan penderita mengonsumsi obat sesuai petunjuk tenaga medis.

  2. Terapi dan Dukungan Tambahan

    Selain obat, beberapa penderita membutuhkan terapi tambahan dan dukungan lingkungan. Hal ini bisa berupa dukungan psikologis, pendidikan, atau bimbingan khusus agar penderita tetap aktif dan percaya diri dalam keseharian.

  3. Perubahan Gaya Hidup

    Gaya hidup sehat dapat membantu penderita mengontrol epilepsi lebih baik. Tidur yang cukup, mengelola stres, menjaga pola makan, serta menghindari pemicu tertentu seperti alkohol atau kurang istirahat merupakan langkah sederhana namun efektif.

Pertolongan Pertama Saat Terjadi Kejang

Untuk menolong seseorang yang mengalami kejang epilepsi, beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Tetap tenang dan jangan panik agar bisa bertindak dengan tepat.

  • Lindungi kepala penderita dari benturan dengan meletakkan benda lembut di bawahnya.

  • Longgarkan pakaian yang ketat di sekitar leher agar pernapasan lebih leluasa.

  • Posisikan tubuh penderita miring ke samping untuk mencegah tersedak jika muntah terjadi.

  • Jangan memasukkan apa pun ke dalam mulut penderita karena berisiko melukai.

  • Amati durasi kejang; jika berlangsung lebih dari 5 menit atau terjadi kejang berulang tanpa penderita sadar di antaranya, segera hubungi tenaga medis.

  • Tetap berada di dekat penderita hingga sepenuhnya sadar, dan berikan bantuan bila diperlukan.

Epilepsi merupakan kondisi medis yang memengaruhi aktivitas listrik di otak dan dapat menimbulkan kejang berulang. Meski tidak selalu bisa disembuhkan total, namun epilepsi dapat dikontrol dengan pengobatan, dukungan, dan perubahan gaya hidup sehingga penderita tetap bisa menjalani kehidupan normal.

Untuk memastikan keamanan Anda dan keluarga dari berbagai risiko penyakit, seperti epilepsi berat, Anda bisa mempertimbangkan asuransi yang memberikan perlindungan atas kondisi kritis, seperti PRUCritical Amanah dari Prudential Syariah.

Nikmati perlindungan komprehensif atas kondisi kritis tahap awal dan kondisi kritis tahap akhir.  Nikmati pula kebebasan memilih plan sesuai kebutuhan dengan Kontribusi terjangkau, yang tersedia dalam Plan Basic dan Plan Plus bagi Anda dan keluarga.

Frequently Asked Questions (FAQ)

  1. Q: Apa itu epilepsi?

    A: Epilepsi adalah kondisi medis yang menyebabkan kejang berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak.

  2. Q: Apa saja penyebab epilepsi?

    A: Penyebab epilepsi bisa berupa cedera otak, infeksi, kelainan genetik, stroke, tumor otak, atau tanpa sebab yang jelas.

  3. Q: Apa saja jenis epilepsi yang umum?

    A: Jenis epilepsi meliputi epilepsi fokal (kejang di bagian otak tertentu), epilepsi generalisasi (kejang seluruh otak), dan epilepsi idiopatik (tanpa penyebab jelas, biasanya genetik).

  4. Q: Bagaimana gejala epilepsi?

    A: Gejala bisa ringan seperti tatapan kosong atau kedutan, hingga berat seperti kehilangan kesadaran, kejang hebat, dan jatuh tiba-tiba.

  5. Q: Bagaimana penanganan epilepsi?

    A: Penanganan epilepsi meliputi obat anti epilepsi, terapi tambahan, dukungan psikologis, dan perubahan gaya hidup sehat.

  6. Q: Apa yang harus dilakukan saat terjadi kejang epilepsi?

    A: Tetap tenang, lindungi kepala penderita, longgarkan pakaian di leher, posisikan tubuh miring, jangan memasukkan benda ke mulut, dan segera hubungi tenaga medis jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit.

Sumber: