Apa yang Dimaksud Diabetes Melitus? Ini Pengertian, Jenis, Gejala, dan Penyebabnya
Diabetes melitus adalah kondisi medis di mana tubuh kesulitan mengatur kadar gula (glukosa) dalam darah. Glukosa dibutuhkan sebagai sumber energi utama bagi tubuh, namun jika kadar gula tidak dikontrol dengan baik hal ini akan berpengaruh pada kondisi organ vital seperti jantung, ginjal, dan saraf.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 12 Juni 2025, dari 8,2 juta peserta Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sekitar 5,9% menderita diabetes melitus. 1 dari 10 orang yang mengalami diabetes melitus usianya di atas 40 tahun, meskipun begitu penyakit ini bisa menyerang siapa saja, termasuk generasi muda.
Bagaimana Diabetes Melitus Dapat Terjadi?
Diabetes melitus termasuk penyakit yang dapat menyerang siapa saja, baik kelompok usia muda maupun usia lanjut. Berikut beberapa gambaran bagaimana diabetes melitus dapat terjadi pada seseorang:
-
Gangguan Produksi Insulin
Diabetes melitus bisa terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup insulin atau sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Insulin adalah hormon yang berfungsi membantu gula darah masuk ke sel tubuh untuk dijadikan energi.
Kekurangan insulin membuat gula menumpuk dalam darah, sehingga kadar gula menjadi tinggi dan berisiko menimbulkan komplikasi jangka panjang.
-
Resistensi Insulin
Pada beberapa kasus, tubuh tetap memproduksi insulin tetapi sel-sel tubuh tidak dapat memanfaatkannya secara efektif. Kondisi ini disebut resistensi insulin dan menjadi salah satu penyebab utama diabetes melitus tipe 2.
Resistensi insulin yang tidak ditanggulangi dengan baik, dapat , menyebabkan kadar gula darah meningkat secara terus menerus.
-
Faktor Genetik dan Gaya Hidup
Riwayat keluarga dengan diabetes melitus juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini. Selain itu, pola makan tinggi gula, kurang aktivitas fisik, dan obesitas juga dapat memicu terjadinya diabetes melitus. Faktor genetik dan gaya hidup ini sering bekerja sama sehingga risiko diabetes melitus menjadi lebih tinggi.
Jenis-Jenis Diabetes Melitus
Diabetes yang dialami manusia umumnya dikenal sebagai diabetes melitus, yaitu kondisi di mana kadar gula darah tinggi akibat masalah insulin. Diabetes melitus terbagi menjadi dua tipe: Tipe 1, dan Tipe 2.
Selain itu, ada pula jenis diabetes insipidus, yang tidak berkaitan dengan gula darah, melainkan masalah hormon yang mengatur keseimbangan cairan tubuh.
-
Diabetes Melitus Tipe 1
Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin sama sekali. Kondisi ini biasanya muncul pada anak-anak atau remaja. Penderita tipe 1 memerlukan terapi insulin seumur hidup untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil.
-
Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes tipe ini lebih umum dan biasanya muncul pada orang dewasa. Kondisi ini terjadi akibat kombinasi resistensi insulin dan produksi insulin yang tidak cukup. Diabetes tipe 2 sering dikaitkan dengan gaya hidup tidak sehat, tetapi dapat dikelola dengan pola makan, olahraga, dan obat berdasarkan anjuran dokter.
Faktor Risiko Diabetes Melitus
Risiko diabetes melitus bisa lebih tinggi pada kriteria tertentu. Berikut beberapa faktor risiko diabetes melitus yang bisa terjadi:
-
Usia
Risiko diabetes melitus cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun. Proses metabolisme tubuh juga melambat seiring bertambahnya usia, memengaruhi pengaturan gula darah.
-
Kelebihan Berat Badan
Obesitas atau kelebihan berat badan dapat meningkatkan resistensi insulin. Dalam kondisi ini tubuh menjadi kurang efisien dalam menggunakan gula darah sebagai energi. Akibatnya, kadar gula darah cenderung meningkat dan risiko terkena diabetes melitus tipe 2 pun lebih tinggi.
-
Pola Makan Tidak Sehat
Konsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, dan karbohidrat olahan secara berlebihan dapat menyebabkan lonjakan gula darah. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, maka dapat meningkatkan risiko tubuh mengalami gangguan metabolisme.
-
Kurang Aktivitas Fisik
Kurangnya aktivitas fisik juga berperan dalam meningkatkan risiko diabetes melitus. Aktivitas fisik membantu sel tubuh menyerap gula dan menjaga keseimbangan metabolisme. Dengan rutin bergerak, risiko diabetes melitus dapat ditekan secara signifikan.
-
Riwayat Keluarga
Jika ada Riwayat keluarga yang memiliki diabetes melitus, maka risiko bisa lebih tinggi. Faktor genetik ini sulit diubah, tetapi kesadaran akan risiko dapat mendorong langkah pencegahan lebih awal.
Gejala Diabetes Melitus
Diabetes melitus umumnya tidak terjadi begitu saja, melainkan ada gejala yang bisa dirasakan oleh pengidapnya di tahap awal. Berikut beberapa gejala diabetes yang umum terjadi:
-
Sering Haus dan Lapar
Kadar gula darah tinggi membuat tubuh kehilangan cairan dan energi, sehingga menimbulkan rasa haus dan lapar berlebih. Gejala ini biasanya muncul secara bertahap. Kesadaran akan tanda-tanda awal ini penting untuk deteksi dini diabetes.
-
Sering Buang Air Kecil
Tubuh berusaha membuang kelebihan gula melalui urine, sehingga frekuensi buang air kecil meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi jika tidak segera diatasi.
-
Kelelahan Berlebihan
Tubuh kesulitan mengubah gula menjadi energi, sehingga penderita merasa cepat lelah. Perasaan lelah ini biasanya tidak hilang meski Anda sudah beristirahat. Kelelahan yang terus-menerus bisa menjadi tanda bahwa kadar gula darah tidak terkontrol.
-
Luka Sulit Sembuh
Diabetes melitus dapat memengaruhi sirkulasi darah dan sistem imun, sehingga membuat luka lebih lama sembuh. Luka yang menumpuk atau terinfeksi meningkatkan risiko komplikasi serius.
-
Penglihatan Kabur
Kadar gula tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di mata. Hal ini menimbulkan gangguan penglihatan atau kaburnya pandangan. Deteksi dini melalui pemeriksaan mata berkala membantu mencegah kerusakan permanen.
Selain beberapa gejala di atas, beberapa kondisi lain juga bisa menjadi gejala diabetes melitus yang kerap dialami seseorang, di antaranya:
-
Gusi bengkak
-
Mati rasa atau kesemutan pada tangan dan kaki
-
Lemas dan sakit kepala
-
Kulit kering
Cara Mengatasi Diabetes Melitus Tahap Awal
Menangani diabetes melitus sejak tahap awal membuat pengendalian kadar gula darah jadi lebih mudah. Dengan langkah-langkah yang tepat, risiko komplikasi dapat diminimalisir dan kualitas hidup tetap terjaga. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi diabetes melitus tahap awal:
-
Mengatur Pola Makan
Batasi gula, karbohidrat olahan, dan lemak jenuh, serta perbanyak konsumsi sayur dan protein sehat. Pola makan yang tepat membantu menurunkan gula darah dan mencegah komplikasi. Konsistensi dalam pola makan sehat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan diabetes melitus.
-
Rutin Beraktivitas Fisik
Olahraga tidak harus memilih program berat. Olahraga ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau senam dapat membantu tubuh memanfaatkan gula darah sebagai energi. Aktivitas fisik rutin membantu menurunkan kadar gula dan menjagakesehatan jantung. Menjadikan olahraga sebagai kebiasaan harian sangat dianjurkan bagi penderita tahap awal.
-
Menjaga Berat Badan Ideal
Berat badan yang ideal dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Dengan berat badan ideal, risiko gula darah tinggi dan komplikasi dapat berkurang. Pengaturan berat badan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik.
-
Rutin Memantau Kadar Gula Darah
Pemeriksaan kadar gula darah secara rutin memungkinkan deteksi perubahan gula darah sejak dini. Pemantauan ini membantu menyesuaikan pola hidup dan pengobatan. Dengan kontrol yang baik, risiko komplikasi dapat ditekan.
-
Kelola Stres dan Tidur Cukup
Stres dan kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur gula darah. Mengelola stres dan tidur cukup membantu tubuh mempertahankan kadar gula yang stabil. Keseimbangan ini mendukung keberhasilan pengelolaan diabetes melitus tahap awal.
Diabetes melitus termasuk kondisi kesehatan yang serius, namun dengan penanganan yang tepat kadar gula darah dapat dikontrol dan risiko komplikasi dapat diminimalisir. Pastikan untuk selalu menerapkan gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Selain menerapkan pola hidup sehat, memiliki perlindungan kesehatan seperti asuransi dari Prudential Syariah juga menjadi upaya dalam menanggulangi risiko kesehatan yang tidak terduga. Dengan memiliki perlindungan, Anda dapat lebih tenang dan fokus menjalani aktivitas sehari-hari.
Sumber:


