Stroke merupakan penyakit gangguan sistem saraf yang terjadi secara tiba-tiba akibat kurangnya aliran darah menuju otak. Otak pada dasarnya memerlukan pasokan oksigen dan zat makanan dari darah agar dapat bekerja dengan baik.
Ketika terjadi penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak, pasokan oksigen menjadi terganggu. Kondisi ini memicu disfungsi otak, sehingga berdampak pada munculnya gejala stroke.
Stroke tidak hanya mengancam kesehatan fisik dan memengaruhi produktivitas, tetapi juga dapat menyebabkan kematian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, melalui unggahan di situs resminya pada 2024, mengungkap bahwa stroke adalah penyebab utama disabilitas serta pemicu kematian tertinggi kedua di dunia.
Meski kerap dikaitkan dengan usia lanjut, stroke dapat menyerang siapa saja, terutama jika faktor risikonya tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyakit stroke, termasuk penyebab dan gejala yang menyertainya, menjadi bagian penting dari ikhtiar menjaga kesehatan.
Apa Penyebab Terjadinya Stroke?
Penyebab stroke dapat beragam, tergantung pada jenis stroke yang dialami. Secara umum, stroke terbagi menjadi stroke iskemik, stroke hemoragik, dan transient ischemic attack (TIA), yang masing-masing memiliki faktor penyebab berbeda.
1. Stroke Iskemik
Stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling umum terjadi. Kondisi ini disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah yang memasok darah ke otak, sehingga memicu terbentuknya gumpalan darah yang dikenal sebagai trombosis serebral.
2. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Darah yang keluar menumpuk dan menekan jaringan otak di sekitarnya, sehingga menyebabkan kerusakan sel-sel otak dan gangguan fungsi saraf.
Stroke hemoragik dipicu oleh pecahnya aneurisma pada pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah pada malformasi arteriovenosa (AVM). Aneurisma adalah kondisi penggelembungan dinding pembuluh darah yang melemah. Jika tidak ditangani, aneurisma dapat pecah dan menyebabkan perdarahan. Sementara itu, AVM merupakan kumpulan pembuluh darah yang terbentuk tidak normal dan berisiko pecah.
3. Transient Ischemic Attack (TIA)
Transient ischemic attack (TIA), atau yang sering disebut mini stroke, terjadi akibat gangguan sementara suplai darah ke otak. Gejalanya mirip stroke, tetapi berlangsung singkat dan umumnya menghilang dalam waktu kurang dari 24 jam. Meski bersifat sementara, TIA perlu diwaspadai karena dapat menjadi sinyal peringatan stroke di kemudian hari.

Kenali Faktor Risiko Stroke
Meski stroke kerap terjadi secara tiba-tiba, risiko penyakit ini masih bisa ditekan dengan mengenali dan mengelola faktor-faktor risikonya. Secara garis besar, faktor risiko stroke terbagi menjadi faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang dapat dikendalikan.
1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dikendalikan
Faktor ini meliputi hal-hal yang bersifat alami, sehingga tidak dapat diubah. Walau begitu, mengenali faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan tetap penting untuk menjadi dasar kewaspadaan.
Risiko terkena stroke dipengaruhi oleh usia. Seseorang umumnya lebih rentan mengalami stroke seiring bertambahnya umur.
Pria lebih mungkin mengalami stroke di usia muda dibanding wanita. Walau begitu, wanita berisiko terkena stroke selama masa kehamilan dan minggu-minggu awal setelah melahirkan. Konsumsi pil KB dan terapi penggantian hormon turut meningkatkan risiko stroke pada wanita.
- Riwayat keluarga dan genetik
Riwayat keluarga dan genetik juga merupakan faktor risiko stroke. Risiko stroke lebih tinggi pada seseorang yang berusia lebih muda jika memiliki orang tua atau anggota keluarga dengan riwayat kondisi serupa. Selain itu, gen-gen penentu golongan darah juga berperan meningkatkan faktor risiko stroke.
Seseorang yang pernah mengalami stroke atau serangan iskemik sementara (TIA) memiliki risiko stroke berulang lebih tinggi.
2. Faktor Risiko yang Dapat Dikendalikan
Selain faktor bawaan, stroke juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor risiko lain yang dapat dikelola lewat gaya hidup sehat.
- Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit stroke. Pasalnya, hipertensi dapat merusak dinding arteri, meningkatkan potensi terbentuknya gumpalan darah sebagai penyebab stroke iskemik, serta memicu pecahnya pembuluh darah otak yang mengakibatkan stroke hemoragik.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah, sehingga memicu terjadinya stroke.
Kadar kolesterol tinggi mendorong terbentuknya tumpukan lemak di pembuluh darah. Plak tersebut bisa menghambat aliran darah ke otak, sehingga menyebabkan terjadinya stroke.
Gangguan irama jantung atau penyakit jantung tertentu dapat memicu terbentuknya gumpalan darah. Misalnya pada kondisi penyakit jantung koroner, kerusakan pembuluh darah berpotensi mengganggu aliran darah ke otak, sehingga memicu stroke.
- Kelebihan berat badan atau obesitas
Obesitas dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol, yang semuanya berkaitan erat dengan stroke.
Selain kedua jenis faktor di atas, gaya hidup seperti merokok, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, stres berkepanjangan, dan kurangnya waktu istirahat juga dapat meningkatkan risiko penyakit stroke.
Baca juga: Olahraga Yang Dianjurkan dalam Islam untuk Kesehatan dan Kebugaran
Gejala Stroke yang Harus Diwaspadai
Gejala stroke kerap kali dianggap remeh, terutama ketika terjadi pada kelompok dengan faktor risiko rendah. Hal ini telah dibahas dalam artikel Gejala Stroke di Usia Muda yang Sering Dianggap Remeh oleh Prudential Syariah.
Padahal, stroke merupakan kondisi darurat medis yang gejalanya bisa muncul secara tiba-tiba dan perlu segera dikenali. Mengenali tanda-tanda awal stroke dan mendapatkan penanganan medis menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko komplikasi serta dampak jangka panjang.
Mengutip situs Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (Keslan) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gejala stroke dan deteksi dini penyakit tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip FAST, yakni:
- F (Face): wajah terlihat tidak simetris, terutama saat diminta tersenyum.
- A (Arms): salah satu lengan atau kaki terasa lemah, sulit digerakkan, atau mati rasa.
- S (Speech): bicara menjadi pelo, tidak jelas, atau sulit memahami pembicaraan.
- T (Time): waktu sangat menentukan hasil penanganan, sehingga disarankan untuk segera mencari bantuan medis ketika gejala muncul.
Selain tanda-tanda di atas, stroke juga dapat disertai dengan gejala lain, seperti:
- Sakit kepala hebat yang muncul secara tiba-tiba
- Gangguan penglihatan pada satu atau kedua mata
- Terganggunya fungsi keseimbangan yang ditandai dengan tubuh terasa berputar dan sulit mengoordinasi gerakan
- Gerak separuh anggota tubuh melemah secara tiba-tiba
- Mati rasa atau kesemutan pada satu sisi tubuh
Langkah Pencegahan Stroke yang Efektif
Kendati stroke dapat terjadi secara tiba-tiba, risiko penyakit dapat ditekan melalui langkah-langkah pencegahan yang konsisten. Upaya pencegahan mencakup penerapan pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan pengelolaan stres yang baik.
1. Menerapkan Pola Hidup Sehat
Pola hidup sehat berperan besar dalam menurunkan faktor risiko stroke. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menjaga tekanan darah, gula darah, dan kolesterol dalam batas normal;
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, seperti memperbanyak serat dan membatasi makanan tinggi lemak jenuh, garam, serta gula;
- Rutin berolahraga, minimal 30 menit per hari;
- Menghindari kebiasaan merokok.
2. Melakukan Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) secara rutin berperan penting untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan kesehatan jantung yang merupakan faktor risiko stroke. Deteksi dini membuat penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan mencegah komplikasi di kemudian hari.
3. Mengelola Stres dan Istirahat yang Cukup
Stres yang tidak dikelola dengan baik dapat berdampak pada kesehatan tubuh, termasuk meningkatkan risiko tekanan darah tinggi yang berkaitan erat dengan penyakit stroke. Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres, misalnya dengan melakukan relaksasi dan menjaga waktu istirahat cukup agar tubuh mendapat waktu untuk memulihkan diri.

Stroke merupakan kondisi serius yang dapat berdampak besar pada kualitas hidup, bahkan berisiko menyebabkan kematian. Namun, dengan memahami penyebab, mengenali gejala sejak dini, serta menerapkan langkah pencegahan yang tepat, risiko stroke dapat ditekan.
Sejalan dengan upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh, memiliki perlindungan kesehatan juga menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan. Anda dapat mempertimbangkan produk-produk asuransi kesehatan berbasis prinsip syariah dari Prudential Syariah sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan rasa aman dan mendukung perencanaan kesehatan jangka panjang bagi diri sendiri serta keluarga.
Frequently Asked Questions (FAQ) tentang Stroke
1. Mengapa stroke bisa terjadi secara tiba-tiba?
Stroke dapat terjadi secara tiba-tiba karena aliran darah ke otak terganggu secara mendadak akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Padahal, otak sangat bergantung pada pasokan oksigen dan nutrisi dari darah agar dapat berfungsi dengan baik.
2. Apa penyebab utama stroke?
Penyebab stroke bergantung pada jenisnya. Stroke iskemik disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah, stroke hemoragik terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak, sedangkan transient ischemic attack (TIA) disebabkan oleh gangguan aliran darah yang bersifat sementara.
3. Apa saja gejala stroke yang perlu diwaspadai?
Gejala stroke dapat dikenali dari wajah yang tidak simetris, lengan atau kaki melemah, dan bicara pelo. Selain itu, stroke juga dapat disertai sakit kepala hebat mendadak, gangguan penglihatan, serta gangguan keseimbangan.
4. Apakah stroke bisa dicegah?
Meski kerap terjadi secara tiba-tiba, risiko penyakit stroke dapat ditekan melalui pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta pengelolaan stres yang baik.
Sumber: